Penerjemahan antarbahasa yang memiliki latar belakang geografis, budaya, dan rumpun bahasa yang sangat berbeda selalu menyajikan tantangan unik. Salah satu kombinasi yang jarang dibahas namun memiliki urgensi tinggi dalam era globalisasi ini adalah penerjemahan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Sotho (juga dikenal sebagai Sesotho). Bahasa Sotho merupakan bahasa Bantu Selatan yang dituturkan terutama di Lesotho, tempat bahasa ini menjadi bahasa nasional, serta di Afrika Selatan. Sementara itu, Bahasa Indonesia adalah bahasa Austronesia yang menjadi lingua franca di kepulauan Nusantara. Menjembatani kedua bahasa ini membutuhkan pemahaman mendalam tentang tata bahasa, budaya, dan nuansa kontekstual dari masing-masing bahasa.
Mengenal Karakteristik Unik Bahasa Sotho dan Bahasa Indonesia
Sebelum memulai proses penerjemahan, seorang penerjemah harus memahami karakteristik dasar dari kedua bahasa. Bahasa Indonesia menggunakan sistem penulisan alfabet Latin yang cenderung fonetik dengan tata bahasa yang relatif sederhana tanpa adanya perubahan bentuk kata berdasarkan gender, jumlah (secara morfologis kompleks), atau waktu (tenses) pada kata kerja secara langsung. Sebaliknya, Bahasa Sotho adalah bahasa aglutinatif yang sangat bergantung pada sistem kelas kata benda (noun classes) dan konkordansi tata bahasa yang rumit.
Bahasa Sotho memiliki sekitar 18 kelas kata benda yang berbeda. Setiap kelas menentukan awalan (prefiks) yang digunakan tidak hanya pada kata benda itu sendiri, tetapi juga pada kata sifat, kata ganti, dan kata kerja yang berhubungan dengannya dalam satu kalimat. Keunikan sistem ini menuntut ketelitian luar biasa dari penerjemah karena kesalahan kecil pada prefiks dapat mengubah arti kalimat secara keseluruhan atau membuatnya terdengar tidak alami bagi penutur asli Basotho (sebutan untuk orang Sotho).
Perbedaan Struktural dan Tata Bahasa yang Signifikan
Dalam menerjemahkan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Sotho, ada beberapa perbedaan struktural utama yang harus diperhatikan:
- Sistem Kelas Kata Benda (Noun Classes): Dalam Bahasa Indonesia, kita hanya perlu menambahkan kata penunjuk jumlah seperti "para", "beberapa", atau mengulang kata benda (misalnya "buku-buku") untuk menunjukkan bentuk jamak. Dalam Bahasa Sotho, perubahan dari tunggal ke jamak ditentukan oleh kelas kata bendanya. Sebagai contoh, kata benda kelas orang (Personal Class) menggunakan prefiks mo- untuk tunggal (misalnya, motho berarti orang) dan ba- untuk jamak (batho berarti orang-orang).
- Konkordansi dan Keselarasan Kalimat: Ketika kata benda berubah kelas, seluruh elemen dalam kalimat yang merujuk pada kata benda tersebut juga harus menyesuaikan prefiksnya. Hal ini tidak dikenal dalam tata bahasa Indonesia, di mana kata kerja tetap tidak berubah terlepas dari apa subjeknya.
- Aspek Waktu dan Modus: Bahasa Indonesia menunjukkan waktu menggunakan kata keterangan seperti "kemarin", "sedang", atau "besok". Bahasa Sotho mengekspresikan waktu dan aspek tindakan (apakah tindakan tersebut sedang berlangsung, sudah selesai, atau merupakan kebiasaan) melalui perubahan internal pada kata kerja dan penggunaan partikel bantu khusus.
Nuansa Budaya dan Lokalisasi
Terjemahan yang baik tidak hanya memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain, melainkan juga memindahkan makna budaya. Bahasa Sotho kaya akan idiom, peribahasa (maele), dan ekspresi metaforis yang berakar pada kehidupan tradisional masyarakat Basotho di pegunungan Afrika bagian selatan. Sebaliknya, Bahasa Indonesia kaya akan istilah sosial, sopan santun, dan konsep budaya maritim atau agraris tropis.
Sebagai contoh, konsep kekerabatan dan penghormatan kepada orang tua dalam budaya Sotho sangat spesifik dan tercermin dalam bahasa mereka. Kata sapaan seperti Ntate (Bapak) dan Mme (Ibu) tidak hanya digunakan untuk orang tua kandung tetapi juga sebagai tanda hormat universal kepada orang yang lebih tua. Penerjemah harus berhati-hati dalam memilih padanan kata yang tepat agar nilai kesopanan dalam Bahasa Indonesia tetap tersampaikan dengan tingkat kehormatan yang setara dalam Bahasa Sotho.
Langkah-Langkah Praktis dalam Proses Penerjemahan
Untuk menghasilkan terjemahan yang akurat dan berterima, ikuti proses sistematis berikut:
- Analisis Kontekstual Teks Sumber: Pahami tujuan teks, audiens sasaran, dan gaya bahasa yang digunakan dalam dokumen Bahasa Indonesia. Apakah teks tersebut bersifat formal, hukum, sastra, atau teknis?
- Pemetaan Konsep: Identifikasi istilah-istilah khas Indonesia yang mungkin tidak memiliki padanan langsung dalam Bahasa Sotho, seperti istilah kuliner (misalnya, "tumpeng"), konsep sosial ("gotong royong"), atau status administratif ("kecamatan"). Carilah padanan deskriptif atau gunakan teknik peminjaman kata dengan penjelasan tambahan jika diperlukan.
- Penyusunan Draf Pertama: Terjemahkan teks dengan fokus pada akurasi makna terlebih dahulu, tanpa terlalu mengkhawatirkan kelancaran gaya bahasa. Pastikan semua informasi penting telah ditransfer.
- Restrukturisasi Tata Bahasa: Sesuaikan draf kasar dengan aturan konkordansi Bahasa Sotho yang ketat. Pastikan semua kata kerja dan kata sifat selaras dengan kelas kata benda yang menjadi subjeknya.
- Penyelarasan Gaya (Stylistic Editing) dan Lokalisasi: Baca kembali hasil terjemahan dalam Bahasa Sotho untuk memastikan teks mengalir secara alami dan terdengar seperti ditulis langsung oleh penutur asli Sotho.
- Uji Keterbacaan (Readability Test): Jika memungkinkan, mintalah penutur asli Bahasa Sotho untuk membaca draf akhir guna memverifikasi bahwa tidak ada frasa yang terdengar kaku atau ambigu.
Tips Utama untuk Keberhasilan Penerjemahan
Bagi para profesional yang bekerja dengan pasangan bahasa ini, berikut adalah beberapa tips penting yang dapat diterapkan:
- Manfaatkan Glosarium dan Kamus Tepercaya: Karena keterbatasan kamus langsung dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Sotho, gunakan bahasa perantara (seperti Bahasa Inggris) sebagai jembatan referensi. Gunakan kamus ekabahasa Sotho untuk memverifikasi definisi kata secara mendalam.
- Perhatikan Dialek Regional: Bahasa Sotho memiliki variasi dialek antara yang dituturkan di Kerajaan Lesotho dan yang dituturkan di wilayah Republik Afrika Selatan (seperti di provinsi Free State dan Gauteng). Ketahui audiens target Anda untuk menyesuaikan pilihan kosakata.
- Hindari Penerjemahan Harfiah: Penerjemahan kata demi kata dari Bahasa Indonesia ke Sotho hampir pasti akan menghasilkan kalimat yang tidak gramatikal dan membingungkan karena perbedaan mendasar dalam sintaksis kedua bahasa. Selalu prioritaskan penerjemahan berdasarkan unit makna atau frasa.